Forum Group Discussion (FGD) Mahasiswa KKN UTM 2012 Kel. 27
Survei dan sosialisasi yang dilaksanakan menuju beberapa dusun di Desa Toronan guna memperkenalkan adanya Mahasiswa KKN UTM 2012 di desa Toronan. Selain itu, kegiatan ini juga ditujukan sebagai salah satu langkah awal untuk mengetahui kondisi desa Toronan
Pengabdian Mahasiswa KKN di SDN Toronan I
Dengan infrastruktur yang terbatas, Siswa - siswa SDN Toronan I tetap semangat dalam menimba ilmu guna masa depan yang lebih baik.
Pondok Ramadhan di SDN Toronan I
Suasana Ramadhan yang cukup melelahkan, tidak mengurangi semangat siswa - siswi SDN Toronan I untuk menimba ilmu.
Sambutan Kepala Desa Toronan dalam acara workshop kripik kulit singkong, aneka rasa dan manajemen pemasaran
Workshop dan Sosialisasi kegiatan diatas dihadiri oleh seluruh warga Desa Toronan dengan penuh antusias untuk menambah ilmu baru tentang inovasi pengolahan singkong di Desa Toronan. Kegiatan ini, didominasi oleh ibu rumah tangga dan remaja setempat.
Rabu, 01 Agustus 2012
Keripik Kulit Singkong
Pada umumnya masyarakat Desa Toronan mengolah singkong menjadi keripik singkong atau biasa disebut keripik “tette”. Dilihat dari sisi geografisnya, tanah di Desa Toronan cocok untuk ditanami tanaman singkong. Sehingga mayoritas penduduknya menanam singkong di lahan mereka masing-masing dalam setiap musimnya.
Dari pembuatan keripik “tette” tersebut terdapat limbah yang dihasilkan berupa kulit singkong. Kebanyakan masyarakat menggunakan kulit singkong tersebut untuk makanannya kambing. Selain itu, kulit singkong juga digunakan untuk kayu bakar setelah dikeringkan. Dilihat dari penggunaan kulit singkong tersebut yang kurang efektif dan efisien, maka terdapat alternatif baru yaitu dengan mengolah kullit singkong menjadi keripik seperti terlihat pada gambar di samping.
Untuk pengolahan kulit singkong menjadi keripik terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan sebagai berikut :
1. Rendam singkong untuk beberapa menit.
2. Potonglah umbi singkong menjadi 2 atau 3 bagian
3. Cuci kulit dalam umbi singkong
4. Didihkan air dalam panci dan rebuslah selama 30 menit
5. Rendamlah kulit dalam umbi singkong yang sudah matang selama 30 menit atau cuci sampai 3x
6. Setelah selesai direbus bentuklah sesuai dengan selera
7. Lumuri kulit dalam umbi singkong dengan bumbu sesuai selera
8. Jemurlah kulit dalam umbi singkong kurang lebih 1 hari
9. Keripik kulit singkong siap digoreng
10. Keripik siap disajikan dan siap dibungkus
Dari alternatif di atas, maka masyarakat bisa menerapkannya agar lebih mengektifkan penggunaan kulit singkong. Selain itu, pembuatan keripik dari kulit singkong tersebut bisa menambah penghasilan masyarakat. Sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Toronan.
*) Oleh Jamilatun Nisa'
KKN UTM 2012 Kelompok 27
SDN Toronan I
Desa toronan Kecamatan Pamekasan Kabupaten Pamekasan hanya memiliki satu SD Negeri, yaitu SDN Toronan 1 yang terletak di dusun toronan selatan. Fasilitas yang dimiliki SD tersebut kurang memadai, meja, kursi, dan papan tulis kurang layak untuk digunakan, serta buku pendamping untuk siswa juga terbatas. Sekolah hanya memberikan pinjaman buku selama proses belajar mengajar berlangsung. Ini menyebabkan siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengulang kembali pelajaran yang telah mereka dapatkan dikelas dan kesempatan untuk belajar sebelum memasuki pelajaran juga sangatlah kecil.
Hal prihatin lainnya yaitu mengenai ruangan kelas yang kurang memadai dan kurang merata. Kelas 1 hingga 3 memiliki kondisi yang paling memprihatinkan dari 6 kelas lainnya. Selain itu perilaku siswa-siswi SDN Toronan 1 kurang terkontrol sehingga perlu perhatian yang khusus dari guru serta orang tua wali agar siswa memiliki kemampuan yang sama dengan siswa SD Negeri lainnya, hal ini menyebabkan kemampuan mereka kurang dari standart rata-rata siswa pada umumnya.
Sebaiknya SDN Toronan 1 perlu direnovasi supaya ruangan kelas bagus dan layak dipakai, dan untuk orang tua siswa-siswi tersebut harus lebih diawasi perilaku anaknya agar kemampuan mereka lebih bagus.
*) Oleh Laili Holisirah
KKN UTM 2012 Kelompok 27
*) Oleh Laili Holisirah
KKN UTM 2012 Kelompok 27
Langkah Kecil Bidan Desa Toronan (Wisata Hati)
Hal pertama yang dipikirkan masyarakat pada umumnya tentang Bidan Desa adalah sosok pahlawan yang menjadi tangan Tuhan membantu kita mengobati rasa sakit, tapi itu tidak terjadi pada masyarakat desa Toronan. Sosok yang seharusnya dibanggakan menjadi momok yang ditakutkan merusak generasi bangsa karena bidan sebelumnya pernah melakukan hal yang tidak sesuai dengan etika yang harusnya dimiliki oleh seorang bidan dan menyebabkan beliau diusir dari desa Toronan yang notabene sangat agamis.
Bukan hal yang mudah mengembalikan kepercayaan masyarakat, perjuangan yang dilakukan ibu Herlin Herawati S.ST.,M.MKes selaku bidan desa Toronan tidak bisa diremehkan begitu saja. Untuk menghidupkan kembali POLINDES yang berfasilitas cukup lengkap dibutuhkan tenaga yang ekstra, pendekatan pada masyarakat adalah kunci dari usahanya.
Di POLINDES aktifitas janda beranak 3 ini berpusat, mengabdi pada masyarakat desa Toronan dibantu oleh asisten bidan, hal menarik yang dilakukan beliau adalah kegiatan Wisata Hati untuk ibu-ibu hamil yaitu kegiatan dimana calon bayi diperdengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan cara meletakkan headset pada perut ibu hamil, hal ini dilakukan untuk merangsang kecerdasan otak bayi. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat usia kehamilan 3 bulan ke atas atau three mester ke 2 (4 – 6 bulan). “Saya ingin membentuk generasi terbaik pada 15 tahun kedepan” ungkap beliau saat kami berkunjung ke POLINDES. Beliau sangat yakin apa yang dilakukannya akan memberikan efek yang luar biasa karena seperti yang kita ketahui bahwa anak dalam kandungan dapat belajar tetapi tidak seperti orang dewasa (F. Rene Van de Carr, M.D.) jadi ketika diperdengarkan dengan hal-hal baik calon bayi akan mengingat hal tersebut.*) Oleh Alifah
KKN UTM 2012 Kelompok 27
Pupuk Cair Organik dari Lamtoro
Lamtoro, siapa yang tidak tahu tanaman ini? Diseluruh penjuru Desa Toronan baik Dusun Utara 1, Dusun Utara 2, Dusun Tengah dan Dusun Selatan banyak ditemukan Lamtoro. Masyarakat Desa Toronan memanfaatkan Lamtoro ini sebagai sayur dan pakan ternak. Hal ini tidak mewakili manfaat alami yang terkandung dalam tanaman Lamtoro ini. Manfaat lain yang terkandung dalam tanaman Lamtoro ini yaitu dapat digunakan sebagai pupuk cair organik.Apakah bisa tanaman Lamtoro dapat digunakan untuk membuat pupuk cair organik? Bagaimana caranya? kami dari kelompok 27 KKN UTM 2012 menemukan cara untuk memanfaatkan daun Lamtoro ini sebagai pupuk cair organik. Berikut adalah tahap-tahap pembuatan pupuk cair organik menggunakan daun Lamtoro :
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Memotong daun Lamtoro menjadi beberapa bagian.
3. Menyiapkan media pengendapan pertama daun Lamtoro yaitu air sisa cucian beras.
4. Menyiapkan media pengendapan kedua yaitu air kelapa.
5. Daun Lamtoro disimpan dalam ember yang tertutup dengan campuran ais kelapa dan air sisa cucian beras.
6. Kemudian campuran tersebut diendapkan selama 7 hari.
Pupuk cair organik hasil olahan daun Lamtoro ini dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah khususnya sayur-sayuran.*)Oleh Firraudusy Aini
KKN UTM 2012 Kelompok 27
SEJARAH TORONAN DAN RONGGOSUKOWATI
Desa Toronan adalah salah satu desa yang termasuk dalam kecamatan Pamekasan kabupaten Pamekasan. Desa yang berbatasan langsung dengan dua kelurahan yakni Kowel, dan Larangan Badung ini memiliki luas 697728 m2. Kelurahan ini memiliki empat dusun yakni dusun Toronan Utara 1, Toronan Utara 2, Toronan Tengah, dan Toronan Selatan. Kelurahan Toronan ini berjarak sekitar 5 km dari pusat kota dan dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi. Secara akses kelurahan ini tidak dilalui oleh kendaraan umum karena letaknya masuk ke bagian dalam desa.Nama desa Toronan sendiri ternyata memiliki arti tersendiri. Jika dilihat secara geografis desa Toronan ini memang terletak di perbukitan yang menyebabkannya memiliki beberapa “toronan” atau “turunan” pada beberapa bagian jalan desanya. Namun ternyata terlepas dari fakta tersebut Toronan memiliki sejarah yang lebih menarik untuk dikaji. Sejarah desa Toronan ini sendiri ternyata tidak terlepas dari sejarah besar kabupaten Pamekasan pada jaman dahulu dan dan ratu besarnya yakni Ronggosukowati.
Kabupaten Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup panjang. Nama Pamekasan sendiri baru dikenal pada sepertiga abad ke 16, ketika Ronggosukowati mulai memindahkan pusat pemerintahan dari kraton Labangan Daja ke kraton Mandilaras. Memang belum cukup bukti tertulis yang menyebutkan proses perpindahan pusat pemerintahan sehinga terjadi perubahan nama wilayah ini. Diperkirakan Pamekasan merupakan bagian dari pemerintahan Madura dan Sumenep, yang telah berdiri sejak pengangkatan Arya Wiraraja pada tanggal 13 Oktober 1268 oleh Kertanegara.
. Setelah pangeran Lendhu wafat, hampir seluruh rakyat pamekasan sudah memeluk islam. Pangeran Ronggosukowati naik tahta pada tahun 1530. Setelah sebelumnya dikuasai oleh keturunan majapahit pamekasan resmi menjadi kerajaan islam.Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Ronggosukowati merekontruksi kota Pamekasan hingga setaraf dengan kota-kota yang lain.
Sebagai salah satu bagian dari sejarah itu, pangeran Ronggosukowati memiliki banyak keturunan yang tersebar di Madura khususnya pamekasan. Sebagai penguasa besar pada jaman itu Ronggosukowati mewariskan berbagai wilayah kepada keturunannya itu. Salah satunya adalah daerah yang kini dikenal dengan sebutan Toronan. Jadi nama Toronan artinya adalah tanah yang diturunkan atau tanah yang diwariskan pada keturunannya.
Daerah Toronan yang diturunkan kepada keturunannya atau yang disebut Mardikan Ini tidak termasuk kepada tanah pemerintah awalnya. Sebagai tanah warisan secara adat tanah di daerah ini menjadi hak milik keturunan Ronggosukowati. Hingga saat ini keturunan yang disebut sebut sebagai Mardikan ini belum diketahui keberadaanya. Untuk menghindari persengketaan di masa depan, warga desa Toronan sekarang hampir semuanya telah mendaftarkan tanah mereka untuk mendapatkan sertifikat.
Selain itu kelurahan Toronan ini juga dahulunya adalah merupakan “Tanah Prabaan” atau tanah suci tempat orang-orang pergi berdoa atau bertapa. Dari awal statusnya sebagai tanah suci ini Toronan semakin dikuatkan kaitannya dengan eksistensi Ronggosukowati di pulau Madura. Meskipun belum ada bukti kuat mengenai hal ini, namun kisah tentang asal-mula nama desa Toronan ini telah tersebar luas di daerah Pamekasan dan dipercayai oleh warga desa Toronan sendiri.
Sebelum tahun 1945 ketika Indonesia menjadi republic, tanah di wilayah toronan ini masih termasuk ke dalam kerajaan di bawah kepemimopinan Ronggosukowati. Setiap tahun satiap masa panen masyarakat harus menyetorkan sebagian hasil panennya atau yang disebut upeti kepada keraton di pusat. Pada saat sekarang ini pajak di desa Toronan memiliki pajak terendah disbanding daerah lain. Setiap tahunnya desa Toronan ini harus membayar pajak sebesar 4,2 juta rupiah. Pajak tersebut telah ditanggung oleh kepala desa. Desa Toronan ini sering mendapat pengharagaan dari kecamatan karena selalu membayar pajak paling cepat.
*) Oleh : Ana Rahmawati
KKN UTM 2012 Kelompok 27
FAKTOR PEREKONOMIAN
Desa toronan adalah salah satu desa yang terletak di kecamatan Pamekasan kabupaten Pamekasan dan mempunyai banyak potensi baik factor pariwisata, sosial, dan perekonomian yang belum bisa di maksimalkan secara maksimal, potensi ini yang membuat saya berani mengambil objek di desa toronan ini. Mulai dari factor wisata disini ada air terjun plesteran dan air terjun dhurbhukkan yang potensinya sangat besar untuk pertumbuhan perekonomian desa Toronan. Apabila di maksimalkan dan di jaga bisa menjadi objek wisata besar dengan alam sebagai covernya.
Dari factor perekonomian sendiri banyak warga yang hidup di bawah garis kemiskinan, dari hasil survey tim KKN UTM kelompok 27 bisa di simpulkan bahwa garis besar profesi di desa ini adalah seorang petani yang penghasilannya tidak tetap dan masih jauh dari kata cukup, banyak mengandalkan dari hasil pertanian tembakau, jagung, cabe, dan terong. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-sehari para istri biasanya membuat kripik tette atau singkong. Penjualan dari sector pertanian di jual perkilo sedangkan untuk kripik tette di jual setiap 100 di jual Rp.5000. dan ada lagi satu kripik yang menjadi khas buatan toronan adalah kripik bidaran, sebuah kripik dengan bentuk yang indah dengan bunga sebagai tema. Ekonomi yang serba kekurangan tidak membuat desa ini tidak dikenal namun desa ini sangat di kenal dengan desa ulet,rajin dan bisa di sebut desa penghasil tembakau terbaik.
Selasa, 31 Juli 2012
Profil Desa Toronan
Toronan merupakan salah satu desa di kecamatan Pamekasan Kabupaten Pamekasan. Desa ini secara geografis dikelilingi oleh Kelurahan Kowel dan dibagian utara di batasi oleh Desa Plakpak. Selain itu, batas barat Desa ini dibatasi oleh Desa Larangan Badung.
Desa Toronan, merupakan Desa mandiri yang mana hampir seluruh system pemerintahannya telah dimanajemen oleh Desa Toronan sendiri. Maka dari itu, struktur organisasi telah dibentuk dengan baik. Mulai dari Kepala Desa, Sekretaris Desa sampai pada Kepala Dusun. Kegiatan organisasi para aparatur desa, berjalan dengan baik, hal ini terbukti dengan adanya kegiatan rutin piket harian aparatur desa yang secara reguler bergantian mulai dari aparat bagian utara, tengah sampai selatan.
Kegiatan kemasyarakatan, terdiri dari Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani), PKK dan Karang Taruna. Gabungan Kelompok Tani, merupakan sebuah lembaga yang mana menaungi kelompok tani yang ada di desa setempat. Gabungan Kelompok Tani di Desa Toronan, bernama Artomoro I untuk Dusun Utara I dan Utara II, dan Artomoro II untuk Dusun Tengah dan Selatan. Salah satu kegiatan Gapoktan adalah adanya pertemuan rutin setiap bulan untuk membahas mengenai kemajuan pertanian di desa setempat, dan juga terkadang tedapat penyuluhan yang diadakan oleh lembaga dinas perkebunan atau peternakan dari Kabupaten Pamekasan. PKK juga memiliki kegiatan rutin setiap bulan. Kegiatan ini diorganisir secara langsung oleh ibu kepala desa. Kegiatan Karang Taruna, juga mengadakan kegiatan rutin setiap bulan untuk membahas mengenai kegiatan- kegiatan pemuda di desa setempat.
Desa Toronan adalah desa yang potensial. Sebagian besar masyarakat, memiliki pekerjaan sebagai petani. Jika ditinjau dari jenis tanah Desa Toronan yang notabene adalah tanah kering dan berkapur, hanya ada 2 jenis komoditas utama tanaman yang ada di desa Toronan yakni Singkong dan Jagung. Selain sebagai petani, masyarakat juga memiliki sampingan sebagai peternak sapi dan unggas. Beberapa masyarakat juga memiliki usaha kecil menengah (UKM) untuk memenuhi kelangsungan hidupnya. Seperti UKM batik, kripik tette dan kripik bidaran. Sampai sekarang, UKM di Desa Toronan masih belum mendapatkan sentuhan dari pemerintah Kabupaten Pamekasan.
Secara umum, infrastruktur di Desa Toronan dibagi menjadi 4 bagian utama. Yang pertama adalah pendidikan, lembaga pendidikan di Desa Toronan terdiri atas Pondok Pesantren, Madrasah dan Sekolah Dasar. Infrastruktur yang kedua adalah Infrastruktur Perhubungan yang mana , hampir seluruh jalan di Desa Toronan adalah jalan beraspal dan terdapat beberapa jembatan untuk menghubungkan antara desa toronan dengan desa yang lain. Yang tidak kalah penting adalah sarana olahraga, Desa Toronan memiliki 3 Lapangan Volly yang selalu aktif digunakan oleh klub volly dusun setempat.
Sekian, wacana diatas merupakan sekelumit hal kecil mengenai Desa Toronan. Semoga, hal ini dapat membantu anda memberikan gambaran mengenai Desa Toronan.
*) Oleh Achmad Fauzi
KKN UTM 2012 Kelompok 27

16.56
ACHMAD FAUZI




